Minggu, 31 Juli 2016

Goresan tak Bertema

Oleh 
Kahlil Gibran
 
Mencoba menuangkan hati
Pada goresan hitam diatas putih
Walau ku hanya seorang anak manusia
Yang tak mengerti apa itu arti cinta?
Alunan waktu yang menyertaiku
Telah menghadirkan cinta dalam hidupku
Satu demi satu rasa itu merengkuh relung jiwa
Dan merampas semua bagian
Saat kau datang dalam tiap mimpiku
Andai ku mampu
Ingin ku menantang dunia yang selalu menjeratku
dengan setia angin cinta yang begitu membebaniku
Engkau yang ku sayang
Kini ku mengerti
bahwa ku berada pada sisi yang salah
yang teramat sempurna untuk ku raih
Semua satu bagian dalam diriku berkata?
Aku hanyalah sesuatu yang tak berarti dalam harimu
atau bahkkan
Hanya seperti batu yang tak berguna
Hingga dengan mudah kau hempaskan
Mungkin kau tak mempercayai apa itu cinta sejati
Hingga kau hanya memandangnya sebelah mata
Cintaku yang terasa hampa tanpa hadirmu
Mungkin bila masih di beri kesempatan
Hanya satu kali seumur hidup untuk berkata jujur
Saat inilah akan ku ungkapkan
Bahwa aku menyayangimu
Mencintaimu melebihi diriku

(Tanpa Judul)

Oleh 
Bertrand Russel

Wahai Sukacita, sukacita pegunungan
Hingga lunglai dalam pertarungan yang dilangsungkan,
Saat masih melekat kulit rusa suci,
Sedang lainnya telah terbantai,
 

Dalam riang memancar merah memabukkan,
Darah domba gunung yang terkoyak-koyakkan,
Kemenangan binatang buas mencakar-menerkam
Dipucuk bukit, tempat matahari tersangkutkan
 

Hingga pegunungan Phrygia dan Lydia
Bromios memimpin jalan kesana.
Akankah dia datang padaku, selalu datang,
Tari-tarian panjang, teramat panjang
 

Sejak gulita malam hingga bintang-bintang pucat menghilang?
Akankah kurasa embun ditenggorokan dan desauan
Angin dirambutku? Akankah kaki-kaki putih kita berkilauan di kolong langit, dikeremangan?
Duhai kaki-kaki rusa yang menyelinap ke hijau hutan, sendiri di rerumputan dan keindahan;
 

Lepaslah binatang buruan, lepaslah dari ketakutan,
Terbebas dari perangkap dan ancaman mematikan.
Namun masih ada suara nun jauh di sana,
Gaung suara, rasa waswas, dan anjing pemburu tergesa-gesa,

Wahai kerja yang mmengasyikkan, tunggang-langgang berlarian,
Menuju bengawan dan celah-selah pegunungan –
Ini keriangan atau kecemasan, wahai kaki-kaki lincah beterjangan?
Ke padang-padang elok sunyi, jauh dari ancaman insan,

Hingga tak terdengar suara, di tengah rimbun hijau belantara,
Makhluk-makhluk lemah hidup sembunyi di dalam rimba

Jumat, 27 Mei 2016

Perempuan dan Perhiasan Dunia

Seringkali saya cukup jengah membaca beberapa artikel yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dan saya merasa hal itu sangat keterlaluan. Laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakan adalah level ketaqwaannya. 

Namun, dalam teorinya, selalu ada penafsiran yang keliru dan cenderung fallacy(sesat pikir). Bisa jadi hal ini berkembang karena pengaruh tradisi lokal yang cukup kuat. Misalnya, kebudayaan di Asia belum tentu sama dengan di Eropa. Di Asia, tradisi bisa jadi jauh lebih kuat ketimbang penerapan agama. Di Indonesia pun satu daerah belum tentu sama dengan daerah lain. Terkadang pengaruh ini tercampur dengan penerapan agama yang parsial.

Sebagai contoh artikel berikut “Pengorbanan Istri Yang Sering Tidak Disadari Suami“ Di dalamnya berisi tujuh poin “pengorbanan” istri terhadap suami. Mengapa saya gunakan tanda petik dua (“), sebab menurut saya apa yang ditulis bukanlah pengorbanan, namun kekeliruan pemahaman. Saya yakin ini kasuistik (hanya dialami oleh penulis atau terlokalisasi di sekitar penulis artikel tersebut). Yang jelas, hati kecil saya berontak dan tidak menerima jika perempuan direndahkan dengan pemahaman keliru. Harus ada yang dikoreksi dari bagaimana cara berpikir sebagian orang mengenai posisi perempuan—terutama ketika dipandang sebagai seorang istri. Berikut komentar saya:

1. “Ketika suami menikah lagi dan perempuan berusaha menerima (karena alasan ekonomi atau agama atau alasan apapun), ia akan duduk sendiri di setiap malam dalam gelap kamar saat suaminya tengah mendekap mesra seorang perempuan lain di ranjang lain. Ia akan (mungkin) menangis karena terluka, tapi demi anak-anak ia akan berusaha menerimanya dengan sabar.”

O please, jangan jadikan seolah perempuan harus menerima itu semua. Perempuan berhak menolak. Bahkan, sebelum pernikahan perempuan punya hak untuk meminta calon suaminya untuk tidak melakukan hal itu. Saya pribadi suka sekali dengan keberanian Ana dalam Ketika Cinta Bertasbih, ketika meminta calon suaminya untuk tidak menikah lagi selagi dia masih hidup. Ana bilang, “Saya tidak mengharamkan poligami. Tapi saya tidak suka. Sama halnya seperti petai. Saya tidak suka petai, tapi bukan berarti saya bisa mengharamkan petai. Saya tidak makan petai.” Menerima laki-laki yang akan melakukan poligami, sedangkan si perempuan tidak suka, lalu “terpaksa” menerimanya, bagi saya, adalah kebodohan. Pastikan calon suamimu tidak akan pernah melakukan itu. Bahkan, terpikirkan pun tidak. Dan, suami terbaik adalah ia yang tidak pernah membiarkan istrinya menangis, apalagi karena suaminya.

2. “Sebagai istri ia siap mengorbankan impian-impianny­a demi mengurus suami (yang kadang bersifat kekanak-kanakan­ dan minta diurus) dan anak-anak yang bandel.”

Saya cuma mau bilang: lelaki macam apa itu? Tega mengubur impian-impian istri demi mengurusi dirinya? Apalagi jika yang dimaksud “mengurus suami” itu sebagai “melakukan pekerjaan pembantu” (tolong bedakan pekerjaan rumah tangga sebagai istri dengan pekerjaan pembantu rumah tangga). Bagi saya, setiap orang punya hak untuk bermimpi dan mengejar impiannya masing-masing. Pasangan yang baik adalah mereka yang bahu-membahu membantu suami atau istrinya mencapai impiannya. Bukankah seharusnya begitu? Bukankah letak keindahannya di situ? Suami mengurangi beban dan ikut merasakan kepayahan istri dalam mengejar cita-citanya. Begitu pula sang istri kepada suaminya. Sehingga mereka berjaya bersama atau hancur bersama.

3. “Ketika suami mencela masakannya, ia akan bersusah payah belajar masak dari siapapun untuk bisa menghidangkan makanan dengan rasa terbaik pada suami dan anak-anaknya.”

Astaghfirullah! Ketahuilah, sepanjang hidup Rasulullah, beliau tidak pernah sekalipun mencela masakan yang dibuat istrinya. Kalau menggunakan ukuran agama. Pertama, dilarang keras mencela makanan. Kedua, wajib hukumnya berakhlak baik kepada istri (dalam hal apapun). Mencela makanan yang dibuat istri sudah menyalahi kedua syarat akhlak tersebut. Itu baru dua, masih banyak yang lainnya. Jadi, sebelum menyebutkan “kesabaran atau pengorbanan” istri terhadap celaan suaminya, suaminya telah salah duluan. Dan, suami macam apa yang mencela masakan istrinya?

4. “Ia bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jam kerjanya tak berbatas. Ia bangun ketika siapapun di rumah belum bangun, mulai bekerja, memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, lalu mengurus suami sebelum pergi kerja, mengurus anak-anak berangkat sekolah, ketika pakaian kering di jemuran ia akan mengangkatnya dan menyetrika dengan rapi.”

Oh stop, please! Istri bukanlah pembantu! Baca lagi Istri bukan pembantu!

5. “Kemudian setelah begitu capek mengurus rumah tangga, malam giliran memenuhi ini itu suaminya. Mulianya seorang istri adalah: tukang masak, tukang cuci, cleaning service, babu dan penghibur suaminya digabung jadi satu.”

Na’udzubillah! Ini kesesatan berpikir yang sangat nyata. Di manakah letak kemuliaannya? Bukankah ini bentuk perendahan sejadi-jadinya? Istri jadi seperti babu dan penghibur itu disebut mulia? Astaghfirullah. Saya benar-benar berlindung dari cara pikir seperti ini. Ini kesesatan berpikir yang fatal. Ingin saya rudal rasanya orang yang berpikir seperti ini.

6. “Ketika suaminya menginginkan punya anak 4, 5, 6 atau 9 orang, ia sebagai istri harus siap menderita mengandung anak dan bertarung nyawa melahirkannya.”

Di poin ini letak semulia-mulianya perempuan. Laki-laki tidak akan pernah bisa mendapatkan kehormatan ini. Mengandung dan melahirkan adalah proses paling menakjubkan di dunia. Tetapi, perlu dicatat, istri pun berhak untuk mengendalikan kelahiran. Suami pun harus tahu diri tentang hal ini.
Inilah mengapa kewajiban mencari nafkah lahir dan bathin adalah sepenuhnya kewajiban suami. Bisa jadi sebagai pengganti—meski tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan mengandung dan melahirkan—kesakitan sang istri. Dan, perlu diketahui pula bahwa dalam mencari nafkah suami pun harus banting tulang.


7. “Meski laki-laki tak paham benar, tapi Allah Maha Mengerti, karena itulah ia memberi reward pada pengorbanan perempuan. Bagi yang meninggal karena melahirkan anak, Tuhan langsung memberinya surga.”

Laki-laki memang tidak akan pernah paham bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan seperti poin sebelumnya. Tetapi bukan berarti laki-laki tidak mendapatkan kewajiban pengorbanan yang sama. Dan, ini tidaklah sama dengan menjadikan istri sebagai subordinasi dari laki-laki. Melahirkan adalah sebentuk jihad bagi perempuan.

Tak Habis Pikir
Saya tidak habis pikir mengapa pekerjaan dapur-sumur-kasur itu disematkan sebagai pekerjaan wajib istri. Sehingga mengepel, menyuci, menyetrika, dsb dianggap domain perempuan. Saya meyakini ini adalah produk budaya lokal yang terasimilasi dengan penerapan agama. Ditambah banyak penafsiran terhadap hak dan kewajiban suami-istri yang dipahami parsial, jadilah tradisi subordinasi perempuan terus lestari. Perpaduan antara dominasi laki-laki sebagai budaya lokal dan penafsiran terhadap teks yang terlalu maskulin.

Jika ada perempuan yang menjalani itu semua dengan penuh keikhlasan tanpa tekanan, tradisi budaya, atau pemahaman parsial agama, bagi saya itu bagus sekali. Mungkin banyak alasan yang bisa diberikan. Namun, jika itu semua dilakukan dengan keterpaksaan budaya—tanpa diketahui hakikatnya, maka itulah yang keliru. Lebih keliru jika kesalahan berpikir itu terus dikampanyekan seolah istri-istri akan mulia dengan melakukan pekerjaan pembantu atau seperti poin-poin di atas. Keikhlasan karena kesadaran jauh lebih baik dari keikhlasan karena keterpaksaan.

Jika “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah,” maka lelaki shalih tentu akan menjaga perhiasan itu dengan jiwa raganya, merawatnya dengan teliti dan hati-hati, dan menyimpannya di tempat terbaik. Tidak masuk di akal jika perhiasan itu ia gunakan untuk memukul paku, mengganjal pintu, gantungan baju, atau digunakan untuk pekerjaan kasar, kotor, lagi menggerus keindahan perhiasan tersebut. Bukankah begitu?

Itu yang saya pahami secara sederhana dari perhiasan—dengan makna sesungguhnya. Bagaimana jika “perhiasan” yang dimaksud adalah manusia? Tentu akan jauh istimewa perlakuannya, bukan?”

#copas 

Kamis, 26 Mei 2016

Apa itu Rindu?

Ya, ini sebuah pertanyaan kepada kita semua yaitu saya dan Anda. Rindu, Sebuah kata yang sering kita dengar sehari hari, namun terkadang kita lupa bahkan tidak tahu apa arti "rindu" itu sendiri. Bagi anak-anak muda terutama yang tengah dilanda asmara, mungkin rindu itu adalah ketika ingin bertemu kekasihnya. Bagi seorang anak yang merantau jauh, berarti ingin berjumpa dengan orang tua dan keluarganya. Melihat artinya dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI), Rindu itu adalah "sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu". Ya, hal ini seperti kita sampaikan sebelumnya, sangat ingin dan berharap kepada sesuatu. Rindu kampung, artinya berharap berjumpa dengan kampung alias ingin pulang kampung. semakin jauh dan semakin lama meninggalkan kampung biasanya akan semakin rindu akan kampung halaman. Saya disini hanya ingin sedikit berbagi tentang "arti rindu" dalam makna sehari-hari sebagaimana yang kita alami, jika yang tertulis di KBBI mungkin hanyalah "teori" yang berarti hanya "sebuah kata", tetapi dalam keseharian, rindu itu kita rasakan bukan hanya sekedar ungkapan kata saja. Seperti kata perjuangan, usaha atau berani, mungkin tanpa melihat KBBI pun kita tau apa itu berjuangan dan apa itu keberanian, tapi pada aplikasinya berapa banyak yang sanggup dan benar-benar dapat merasakan perjuangan dan arti keberanian? Tentu tdk banyak! Begitu juga dengan Rindu. Kita boleh mendefinisikan atau mengungkapkannya dengan berbagai cara. Tetapi, sekali lagi, rindu adalah masalah rasa. Adapun, maksud saya menulis ini bukanlah ingin membahas tentang rasa rindu dalam percintaan, apalagi perihal percintaan anak-anak remaja yang masih "alay", terlebih rindu seperti yang di tampilkan sinetron. Yang butuh puluhan bahkan ratusan puisi untuk mengungkapkanya. Sama sekali bukan! Itu tentang rasa rindu dalam aspek kehidupan yang menyeluruh dalam kehidupan kita. Sebagai contoh, Seorang mahasiswa saat ini bosan dengan kegiatan kampus, tugas yang menumpuk apalagi jika dosen yang kiler, rasa-rasanya waktu terhenti dan pinginnya cepat berlalu. Tapi ketika selesai kuliah, setelah wisuda dan dapat gelar sarjana. Bahkan sudah bekerja dan berkeluarga, rasanya ingin kembali ke masa kuliah, ingin berkumpul bersama teman-teman semasa kuliah, walaupun tugasnya menumpuk. Tetapi dengan tugas menumpuk itu kita dapat merasakan bagaimana indahnya berkumpul dengan teman-teman seperjuangan. Rindu akan dosen yang killer. Contoh lain lagi, ada seseorang yang sangat peduli (biasanya ini dialami oleh cewek) kepada Anda, tapi Anda mungkin merasa sok jual mahal, mungkin pada saat itu Anda banyak yang peduli, mungkin karena kecantikan anda(karena anda merasa cantik)? Mungkin merasa pintar? Kaya? atau sejenisnya? Pada saat itu anda mungkin tidak begitu menghargai sebuah kepedulian seseorang, walaupun kepedulian itu ada mungkin nilainya tidak begitu besar, kenapa bisa demikian? Hal ini terjadi karena mungkin yang peduli kepada anda. Ketika hari ini, rasa kepedulian itu sedikit demi sedikit mulai berkurang kepada Anda, maka Anda pun merasa butuh kembali rasa kepedulian yang pernah tulus diberikan (sese)orang kepada Anda ataupun kita. Disaat jumlah kepedulian itu sedikit, baru kita merasakan begitu berharganya sebuah kepedulian dari seseorang. Disaat seseorang telah mengalihkan kepedulian kepada yang lain, karena mungkin ditempat yang lain lebih 'berharga' sebuah kepeulian, baru Anda sadar bahwa berapa nilainya sebuah kepedulian atau betapa pentingnya orang yang begitu peduli dengan Anda. karena kita telah tidak bisa memiliki, saat itulah kita merindu akan sosok yang seperti itu. Hal ini juga berlaku seperti kepedulian dan kasih sayang dari orang tua kita, disaat beliau masih sehat, mungkin saat masih jaya yang mana segala keinginan kita mampu dipenuhi. saat itulah kita tidak begitu menghargai orang tua kita, dengan seenaknya kita minta dibeli ini dibeli itu. Kalau tidak dibeli kita marah, berkata dengan kasar dan bahkan akan mengancam. Ketika beliau sudah tua ketika sudah lemah tak berdaya atau ketika beliau sudah tiada, baru kita merasa kehilangan. Baru kita merasa merindui sosok yang seperti itu kembali yang pasti tak ada penggantinya lagi. Kembali kepada pertanyaan apa itu Rindu? Rindu itu tak cukup hanya sekedar kata-kata untuk mengungkapkannya seperti yang dikatakan dalam KBBI, tapi ini masalah rasa dan masalah jiwa. Dimana kondisi kita lebih banyak menyesal karena kita tdk mempergunakannya dengan sebaik-baiknya ketika kesempatan itu ada. dan sering kita sesali, ketika itu telah tiada. Jadi benar seperti kata orang bijak, Syukurilah apa yang kita miliki sekarang, sebelum ia pergi dan tak pernah kembali. Jadi, kembali kepada kepada pribadi kita sendiri, mensyukuri apa yang kita miliki, atau...(silahkan isi sendiri). Jadi, jangan sia-siakan orang yang begitu peduli pada Anda saat ini, sebelum dia pergi dan takkan pernah kembali untuk Anda.

Kerinduan Terpendam

Di kala sang surya mulai menenggelamkan dirinya
Di kala mentari perlahan meninggalkan langit biru
Di kala kerinduanku yang terpendam
Manakala hati menginginkannya
Manakala jiwa merindukannya

Semua laksana bagai puri
Kerinduan yang terpendam
Jauh dilubuk kerinduanku
Tersimpan dan tertanam
Sejuta harapan tuk
Bertemu denganmu segera
Dan memilikimu seutuhnya
Adalah impianku

Cahaya jiwamu yang  engkau
Pancarkan selalu terlihat
Bak mutiara hati yang selalu
Terpancar dalam kesehari-harianmu

Tapi hanya satu kekuranganmu
Yaitu pencarianmu dalam memilih
Pendamping hidup dambaan hati,,
Biduan hati..
Kerinduan sang perindu biduan hati

Salam rindu selalu dari ku

Menanti dalam Rindu


Jauhku melangkah menuruti hasrat yang terpendam
Gelora rindu berjalan seiring nafas
Langkah kaki makin nyata menghujam
Terbang bersama kasih yang terhempas
 

Lautan cinta tempat berpadu
Rindu yang kemarin belum terobati
Nada-nada mengalun di hati penuh sahdu
Angan yang tinggi terbang untukmu wahai pengobat hati
 

Ceceran kasih yangku ukir dalam namamu
Ku bentangkan gelora rindu penuh pesona
Datang dan terbang terbawa angin bersama hayalmu
Kini Ku dekap erat dirimu dalam rinduku
 

Gugusan rindu telah teruntai
Mahligai kata telah terucap riang
Rasa yang takan padam oleh janji-janji
Manis semanis kembang gula yang merah terpajang
 

Ku nanti kau ku nanti
Ku tunggu Kau selalu Ku tunggu
Harapanku pasti
Janjimu selalu

Sabtu, 21 Mei 2016

Kerinduan itu ....

Disudut kegelapan, bintang setia hadir tersenyum dikala nyamuk perang mencari darah. Tapi aku tak melihat cahaya yang biasa tersenyum lebar. Dimana cahaya itu? Bosankah ia melihat tingkah makhluk dibumi ini? Ataukan ia terbaring sakit di singgasananya? Ahh ntah lah! Aku merindukan engkau wahai dewi malam J ingin aku berbagi ceritaku malam ini pada engkau pendegar setia ku -_- engkau yang selalu menebar cinta saat aku bersedih risau. Engkau yang seolah berkata “tersenyumlah walau semua masalah mu begitu berat kau rasakan”. Iya! Karena selarut apapun bulan menerangi bumi ia tak pernah menampakan kesedihanya. Tetap tersenyum di langit sana.
Semangat itulah yang seharusnya aku tiru dari bulan itu. Tapi, apakah aku bisa setegar bulan? Sedangkan kerinduan akan sesorang itu terus membuat sesak dihatiku L mutiara pun tak mampu ku tahan, terus keluar menyusuri pipi. Rasanya hati ini sulit membuang semua kisah masalalu bersama lalaki itu. Bahkan mungkin separuh hatiku masih bersamanya. Ingin ku bicara memohon hati ku dikembalikan. Tapi beras telah menjadi bubur. Luka yang membekas sulit tersembuhkan.
Aku memang meniru semangat bulan. Ceria di setiap hariku, tertawa bersama teman, bercanda gurau yang membuat aku melupakkan sejenak kesedihan akan rindu ku. Tapi hati tidak dapat dibohongkan. Saat senja datang, dan bulan menggatikan matahari yang mungkin lelah berbagi cahaya. Kejolak sedih ku datang lagi. Mengundang hati untuk bercerita pada bulan pendegar setiaku.
Apakah cinta sekejam ini. Berawal manis menyisahkan kesedihan. Dulu aku tak pernah takut mencinta. Tapi sekarang aku telah merasakan pahitnya hati yang terluka. Aku hanya berharap agar luka yang aku rasa ini tidak lagi aku rasakan nantinya.
Malam semakin larut, dingin mulai menusuk kulit. Ku hapus air mata yang mengalir. Berharap esok tidak lagi ada air mata yang keluar dari mata ku ini. Terima kasih bintang yang mengantikan bulan untuk mendengar keluh kesah ku. Aku harap kalian tidak bosan mendengar ceritaku seperti bulan yang menjadi teman setiaku. Oh ya. Wahai langit, engkau adalah dinding pembatas yang bisa mempertemukan. Aku hanya ingin engkau sampaikan salam rinduku pada seorang lelaki yang teramat ku sayang J bilang padanya aku rindu akan tawa, senyum dan perkataannya. Terima kasih langit.

Selasa, 17 Mei 2016

Kesendirian

Gagak-gagak berteriak resah,
menderu terbang ke kota:
salju bakal turun segera –
bahagia – dia yang masih berumah!


Kini kau terpaku bisu,
berpaling, ah! Sudah sedemikian lama!
Mengapai kau yang dungu
lantaran dingin, kabur ke dunia?


Dunia – sebuah gapura
ke seribu gurun bisu dan dingin!
Dia yang kehilangan yang darimu sirna,
tak dapat berlabuh di mana ingin.


Kini kau terpaku pasi,
terkutuk kembarai salju,
Bagai asap yang tak henti
mencari langit kian beku.


Terbanglah, burung, raungkan
dendangmu separau burung-gurun! –
Benamkan, kau yang dungu,
kalbu barahmu dalam cemooh dan salju.


Gagak-gagak berteriak resah,
menderu terbang ke kota:
salju bakal turun segera –
bahagia – dia yang masih berumah!


Oleh:
Nietzsche

Senin, 16 Mei 2016

Aku, Rindu dan Sepi Ini

Gemercik hujan mulai membasahi jemari tangan
Membiarkan rintik airnya terjatuh dalam genggaman
Terasa dinginya senja itu.. saat itu.. kala itu...
Begitu dingin.. sedingin perasaan ku

Rasa yang membeku dan membatu selepas kau pergi
Rasa yang hambar sebab tiada hadirmu
Oh.. sulit tuk ku lukiskan sakit nya… pedihnya

Sepi ini kian menusuk ku..
Menghujam kesendirian yang pahit
Sepi ini nyaris menikam ku
Bersama kerinduan yang menyiksa bathinku

Sendiriku memunguti sepi
Menangguk awan berarak diterik mentari
Lenguh nafas letai tak surutkan gelombang laut yang membuncah
Karang yang mengonggok tak pernah kesal
Selalu merindukan hentakan gelombang

Sendiriku memunguti sepi
Dipadang-padang gersang
Ditebing-tebing curam
Tak lagi ada nyanyian bocah memanggil angin
Untuk menyampaikan rindu pada rembulan

Sendiriku memunguti sepi
Membawaku pada kembara tak berujung
Dan ketika letih jiwa kian nanar
Nalarku tersangkut diawan
Mencari sepi yang kian pudar.
Yang kini entah dimana

Andai sepi ini milikmu
Andai rindu ini milikmu
Mungkin saja tiada ku rasakan pedih tak bertepi layaknya kini..

Diamku yang ramai…
Bayang hati mu yang damai…
Semakin menyiksa ingin di dekat mu…

Inilah keheningan rindu..

Kamis, 12 Mei 2016

Apa Kau Tahu Juga?

Seperti kau rasakan sulitnya untuk mengatakan
karena kata-kata sering mengundang salah paham
dan aku tahu perbedaan unik di antara kita
sehingga kata-kata dimaknai secara berbeda
itulah yang membuatku kadang terdiam
untuk mencari cara menyampaikannya
dan menjadi kerinduanku terdalam
dimana getaran kita ada pada frekwensi sama
dan mungkin itu berupa kerinduan ini

Alam mungkin bisa melukiskannya
seperti gumpalan awan-awan hitam disana
lalu kan kau dengar gelegar gemuruh panjang itu
setelah kilatan cahaya yang begitu terang
karena awan positif dan awan negatif
lompatan listrik yang begitu dahsyat
sebagaimana cahaya cinta terlahirkan
dari sebuah kerinduan
untuk segera lari menyatukan hati

Bila kau lihat tetes hujan yang kian deras
karena getaran gemuruh halilintar itu
kau akan mengerti begitu kuatnya getaran cinta
mengalir di tengah alam yang seolah sunyi  bisu
namun bila kau dengarkan irama guyuran hujan
oleh angin yang memainkannya
seolah menjadi tarian alam dengan simponinya
bersama lenggak-lenggok pucuk pepohonan
dalam kesatuan nada dan gerak

Dan seperti kau ketahui
guyuran air segar yang turun itu
akan menghijaukan alam dengan dedaunan
dari tanaman-tanaman yang akan berbunga
sehingga ketika awan-awan itu tersibak
untuk mempersilahkan cahaya mentari
gerimis itupun akan menjadi pelangi
yang menyatakan keagungan alam ini bekerja
menyediakan begitu banyak keindahan

Maka kerinduan yang begitu mendalam ini
mengajak kita untuk sejenak meluangkan waktu
diam dalam sunyi memasuki keheningan diri
untuk mendengarkan irama nada alam
yang selalu mendendangkan simponi cinta
dalam harmoninya yang sering terabaikan
bahwa segalanya adalah satu dalam kesatuannya
dan sama sekali tidak pernah saling terpisahkan

Kini biarkan getaran itu memasuki diri kita
untuk menyelaraskan getaran hati kita
menjadikannya selalu seirama
sehingga kita bersama ada dalam frekwensi yang sama
mengalir menyatu dengan dinamika alam
dalam getarannya yang abadi adanya
dimana kepenuhan dan kesempurnaan menyatu
oleh karena daya cinta yang mengikatnya
untuk melahirkan semua kebahagiaan 

Cinta dan Benci

Aku tidak pernah mengerti
Banyak orang menghembuskan cinta dan benci
Dalam satu napas

Tapi sekarang aku tahu
Bahwa cinta dan benci adalah saudara
Yang membodohi kita, memisahkan kita

Sekarang aku tahu bahwa
Cinta harus siap merasakan sakit
Cinta harus siap untuk kehilangan
Cinta harus siap untuk terluka
Cinta harus siap untuk membenci

Karena itu hanya cinta yang sungguh2 mengizinkan kita
Untuk mengatur semua emosi dalam perasaan

Setiap emosi jatuh... Keluarlah cinta

Sekarang aku mengetahui implikasi dari cinta
Cinta tidak berasal dari hati
Tapi cinta berasal dari jiwa
Dari zat dasar manusia

Ya, aku senang telah mencintai
Karena dengan melakukan itu aku merasa hidup
Dan tidak ada orang yang dapat merebutnya dariku

Oleh : Chairil Anwar

Kami Para Wanita Sungguh Sebenarnya Tahu

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah tokoh romantis yang dapat melukis seperti Jack Dawson dalam Titanic, maka itu kami tidak pernah minta kalian melukis wajah kami dengan indah, paling tidak saat kami minta kalian menggambar wajah kami , gambarlah, meskipun hasil akhirnya akan seperti Jayko adik perempuan Giant dalam film Doraemon, tapi kami tahu, kalian berusaha.

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukan peramal seperti Dedi Corbuzier yang dapat menebak isi pikiran kami atau apa yang kami inginkan saat kami hanya terdiam dan memasang wajah bosan, tapi saat itu kami hanya ingin tau, sesabar apakah kalian menghadapi kami jika kami sedang sangat menyebalkan seperti itu, kami tidak minta kalian mampu menebak keinginan kami, setidaknya bersabarlah pada kami dengan terus bertanya “jadi sekarang maunya gimana?”

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah penyair sekaliber Kahlil Gibran atau yang mampu menceritakan kisah romantis seperti Shakespear, maka itu kami pun tidak meminta kalian mengirimi kami puisi cinta berisi kalimat angan-angan nan indah setiap hari atau setiap minggu, tapi setidaknya mengertilah bahwa setelah menonton film korea yang amat romantis itu, kami sangat berandai-andai kekasih kami dapat melakukan yang sama, meskipun isi puisi tersebut tidak sebagus kahlil Gibran, kami akan sangat senang –sungguh- jika kalian mengirimkannya dengan tulus dan niat. (bahkan meskipun ujungnya terdapat “hehe, aneh ya?”, kami akan benar-benar melayang, tuan)

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah setampan Leonardo Dicaprio, tapi tolong mengertilah itu sama sekali bukan masalah bagi kami, saat kami memuja-muja pemuda seperti itu, itulah pujian dan pujaan, tapi hati kami sungguhnya telah terikat oleh kalian, tuan. Mungkin saat itu kami hanya ingin tau apa pendapat kalian jika kami jatuh cinta pada orang lain, semacam mengukur tingkat kecemburuan kalian.

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah semenakjubkan John Nash atau sebrillian Isaac Newton, namun kami sebenarnya sangat menghargai bantuan kecil dari kalian meskipun hanya membantu mencarikan artikel dari internet, kami ingin menunjukkan pada kalian bahwa kalian lebih kami percayakan daripada Newton atau Galileo.

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah segagah Achilles pada film Troy, maka itu kami tidak pernah minta kalian mengikuti program peng six-pack an tubuh atau kontes L-men. Namun dengan kalian berhenti dan tidak pernah merokok, kami sangat akan memilih kalian dari Achilles manapun. Menyuruh kalian berhenti merokok adalah untuk meyakinkan diri kami bahwa kalian lebih gagah dari Achilles (karena tentu kalian akan kalah beradu pedang dengan Achilles bukan?).

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukan Pangeran denga kuda putih yang akan melawan naga demi kami, karena kami pun bukan putri tidurnya, dan maka dari itu kami tidak pernah minta kalian melawan preman pasar yang pernah menggoda kami waktu lalu, tapi setidaknya, mengertilah tanpa kami harus minta, saat hujan lebat datang dan dirumah sedang mati lampu dan ayah ibu belum datang, kami hanya dapat mengandalkan kalian, maka itu temani kami walau hanya dengan sms dan telepon, karena menurut kami, berbincang dengan kalian adalah melegakan, maka itu jangan tradeoff (tukar) keadaan seperti itu dengan Game PES 2010 terbaru kalian itu (sangat mengesalkan!)

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah bayi yang harus diingatkan hal ini dan itu setiap waktunya, tapi mengertilah bahwa kami sangat merisaukan anda, kenapa kami mengingatkan kalian makan atau sembahyang, itu karena tepat saat itu, kami baru saja hendak makan atau sembahyang, maka itu saat kalian bertanya kembali atau mengingatkan kembali, kami akan jawab “iya, bentar lagi nih”

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau kalian bukanlah Romi Rafael yang pandai menyulap saputangan menjadi bunga, maka itu kami tidak pernah meminta hal hal semacam itu, namun mengertilah bahwa melihat bunga rose di pinggiran jalan itu menggoda hati kami, bahkan meski kami tidak suka bunga, pemberian kalian akan menjadi hal yang kami sukai, karena kami sebenarnya hanya sangat ingin menyimpan kalian saat itu, setelah malam kalian antar kami pulang, namun kami tahu kita harus berpisah saat itu.

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau kalian bukanlah Mr. Bean yang dapat membuat kami tertawa terbahak saat sedang bosan, maka itu jangan coba-coba menjadi juru selamat untuk mencoba membuat kami tertawa saat itu, karena kami tau kalian tidak mampu sekocak Mr. Bean dan malah hanya akan memperkeruh suasana, yang kami inginkan saat itu hanyalah memastikan kalian ada disamping kami saat masa-masa sulit meski hanya dengan senyuman menenangkan.

Kami, para wanita sungguh sebenarnya juga tau kalian bukanlah pemuda seperti Edward Cullen yang akan segera datang dengan Volvo saat kami diganggu oleh preman jalanan, namun setidaknya, pastikan kami aman bersama kalian saat itu dengan tidak membawa kami pulang terlalu larut dan mengantarkan kami sampai depan pintu rumah dan bertemu ayah ibu, (jangan hanya sampai depan gang, hey, tuan!)

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau kalian tidak akan bisa seperti ibu kami yang dapat menghentikan tangisan kami, namun tolong mengerti, saat kami menangis dihadapanmu, kami bukan sedang ingin dihentikan tangisannya, justru kami sangat ingin kalian dihadapan kami menampung berapa banyak air mata yang kami punya, atau sekedar melihat apa reaksi kalian melihat kami yang –menurut kami- akan terlihat jelek saat menangis

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau juga sebenarnya, bahwa kalian tidak akan punya jawaban yang benar atas pertanyaan, “aku gendut ya?”, kami sungguh tau, tapi saat itu kami hanya ingin tau, apa pendapat kalian tentang kami yang pagi tadi baru bercermin dan sedang merasa tidak secantik Kristen Stewart.

Kami tau, kalian adalah makhluk bodoh yang tidak peka dan terlalu lugu untuk percaya pada setiap hal yang kami katakan, tapi mengertilah bahwa saat kalian bertanya “baik-baik aja?” dan kami jawab “iya, aku baik-baik aja” itu adalah bahasa kami untuk menyatakan keadaan kami yang sedang tidak baik namun kami masih menganggap kalian adalah malaikat penyelamat yang mampu mengatasi ketidak-baik-baikan kami saat itu tanpa kami beritau, (tentu mestinya kalian sadari jika kami memang benar sedang baik-baik saja kami akan menambahkan perkataan seperti “iya aku baik-baik aja, malah tadi aku di kampus ketemu dengan dosen yang itu lho….*bla.bla.bla”)

Iya, kami sepertinya tau apa yang kalian pikirkan tentang kami yang begitu merepotkan. Tapi begitulah kami, akan selalu merepotkan kalian, tuan. Hal ini bukan sesuatu yang kami banggakan, namun inilah bahasa kami untuk mempercayakan hati kami pada kalian, jika kalian bukanlah pemuda yang kami percayakan dan kami butuhkan, tentu saja yang kami repotkan dan persulitkan bukan kalian. Kami makhluk yang amat perasa dan gampang merasa “tidak enak”. Kami enggan merepotkan “orang lain”.

Jika kami merepotkan dan menyusahkan, berarti kami menganggap anda bukanlah orang lain, tuan.

Kami tidak senang bermain-main, tuan pemuda. Maka tolong jaga hati yang kami percayakan ini. Kami mungkin mudah berbesar hati atau “geer”, tapi sekali kami menaruh hati kami pada satu pemuda, butuh waktu yang lebih lama dari menemukan lampu bohlam untuk menghilangkannya (bukan melupakan).

Kami akan sulit menerima hati baru setelah itu, karena kami harus membiasakan diri lagi. Padahal kami sudah terbiasa dengan anda, terbiasa melakukan semuanya dengan anda. Maka tolong, mengertilah tuan. Karena kami, wanita sungguh sangat tau sebenarnya kalian, pemuda, dapat mengatasi semua tingkah kami yang merepotkan ini.

Terbentur rindu yang belum juga tahu

Hello, rindu masih tak berpihak padaku. Karena rindu sedang merindukan rindu yang lain? Hehehe. Rindu pernah datang padaku. Iya. [baca: sangat sering saat dulu] Dia juga pernah berpihak padaku. Tapi, entah mengapa, hingga tulisan ini kalian baca, atau mungkin hingga suatu hari nanti, rindu masih tak berpihak padaku. Tolong, jangan tanya mengapa. Karena, untuk berkatapun rasanya rindu takkan pernah mau lagi.

Lagi, rindu tak berpihak padaku. Ketika merindu, ada rasa ingin bertemu? Itu wajar! Tapi, tunggu, rindu tak bisa menemuiku. Dan aku juga tak bisa menemui rindu. Tak bisa dan tak boleh! Dan sekali lagi, tolong, jangan berkata, “mengapa?”. Tiba-tiba rasaku benar-benar membuncah untuk berbuat “sesuatu”. Tapi, tetap saja, rindu tak berpihak padaku.

Dan lagi, rindu masih tak berpihak padaku. Entah, mengapa aku berharap rindu akan berpihak padaku. Walaupun rasanya sangat mustahil, tapi, aku masih ingin rindu berpihak padaku. Daku bodoh? Hehehe. Baiklah, aku terima dengan senang hati. Sebenarnya, aku juga merasa aneh dengan rasa ini. Mengharapkan rindu merindu? Aduh, istigfarlah aku. Kau takkan bisa mendapatkannya. -_-


Sekali lagi, rindu tetap tak berpihak padaku. Baiklah, harusnya aku memang sadari itu sejak awal, sejak pertama mengenal rindu. Aku tak harusnya mengharapkan rindu untuk merindu. Tapi, tapi, tapi, aku harap rindu akan merindu! Ahhh, aku benar-benar bodoh! Bismillah, astagfirullah, astagfirullah. Baiklah, takkan ada rindu lagi. Dan, rindu, tenanglah! Kau tak perlu khawatir. Takkan ada namamu yang kusematkan dalam doaku lagi. Dan kuharap, kau kan bahagia merindu dengan rindumu yang baru. Ya, dan “aku harap rindu akan merindu” itu akan kau implementasikan dengan rindumu yang lainnya. Hehehe. Selamat tinggal rindu, maaf pernah merindukanmu.

Makna Rindu itu ...

Nah, Rindu dan kangen, dua kata yang mungkin selalu keluar dari mulut pasangan sejoli dimanapun berada. Tanpa mengenal batas usia, tanpa mengenal background masing-masing, tanpa mengenal dia dari mana, anaknya siapa, cantik, tampan, hitam, putih, kaya, miskin dll semua orang ketika telah merasakan getaran cinta didalam hatinya akan mengeluarkan dua kata tersebut. Entah dengan sebab iseng berkirim sms, tiba-tiba muncullah ide untuk mengetik salah satu dari kata tersebut, ataukah yang sedang ingin merangkai sebuah puisi nan indah buat sang pujangga hati, salah satu atau kedua kata tersebut ada didalam puisinya.
Rindu itu ialah ungkapan cinta yang agak berlebihan, dan ada rindu yang disertai dengan menjaga diri dan ada juga yang diikuti dengan kerendahan hati. Rindu bukanlah sesuatu hal yang tercela dan keji, akan tetapi perlulah disertai dengan menjaga diri, kesucian dan kerendahan hati.

Pantaskah kita dirindukan? Mungkin karena merasa pintar? Merasa kaya? atau sejenisnya? Pada saat itu Anda mungkin tidak begitu menghargai sebuah kepedulian seseorang, walaupun kepedulian itu ada mungkin nilainya tidak begitu besar, kenapa bisa demikian? hal ini terjadi karena mungkin yang peduli kepada Anda. Ketika hari ini, rasa kepedulian itu sedikit2 mulai berkurang kepada Anda, maka Andapun merasa butuh kembali rasa kepedulian yang pernah tulus diberikan (sese)orang kepada Anda ataupun kita. Disaat jumlah kepedulian itu sedikit, baru kita merasakan begitu berharganya sebuah kepedulian dari seseorang. disaat seseorang telah mengalihkan kepedulian kepada yang lain, karena mungkin ditempat yang lain lebih 'berharga' sebuah kepeulian, baru Anda sadar bahwa berapa nilainya sebuah kepedulian atau betapa pentingnya orang yang begitu peduli dengan Anda. karena kita telah tdk bisa memiliki, saat itulah kita merindu akan sosok yang seperti itu. Hal ini juga berlaku seperti kepedulian dan kasih sayang dari orang tua kita, disaat beliau masih sehat, mungkin saat masih jaya yang mana segala keinginan kita mampu dipenuhi. saat itulah kita tdk begitu menghargai orang tua kita, dengan seenaknya kita minta dibeli ini dibeli itu.Kalau tdk dibeli kita marah, berkata dengan kasar dan bahkan akan mengancam. Ketika beliau sudah tua ketika sudah lemah tak berdaya atau ketika beliau sudah tiada, baru kita merasa kehilangan. Baru kita merasa merindui sosok yang seperti itu kembali yang pasti tak ada penggantinya lagi. Kembali kepada pertanyaan apa itu Rindu? Rindu itu tak cukup hanya sekedar kata-kata untuk mengungkapkannya seperti yang dikatakan dalam KBBI, tapi ini masalah rasa dan masalah jiwa. dimana kondisi kita lebih banyak menyesal karena kita tdk mempergunakannya dengan sebaik-baiknya ketika kesempatan itu ada. dan sering kita sesali, ketika itu telah tiada. Jadi benar seperti kata orang bijak, Syukurilah apa yang kita miliki sekarang, sebelum ia pergi dan tak pernah kembali. Jadi... kembali kepada kepada pribadi kita sendiri.. mensyukuri apa yang kita miliki,atau...(isi sendiri) Jadi, jangan sia-siakan orang yang begitu peduli pada Anda saat ini, sebelum dia pergi dan takkan pernah kembali untuk Anda.

Selasa, 10 Mei 2016

Curhatan Sedih

Aku mencintainya.. 5 tahun lebih berlalu aku menemaninya, ketika sedih maupun senang, ku berikan cintaku dan hidupku sepenuhnya, 5 tahun lebih berlalu, dan tiba saatnya kami membicarakan tentang pernikahan kami tepat saat setelah lebaran, masih kuingat dimana dan kapan hal yang kutunggu itu dibicarakan.

Kita berkeliling dirumah saudaranya dan kami katakan kita akan menikah dalam waktu dekat ini. Tapi takdir berkehendak lain, ku ingat saat terakhir dia katakan akan bekerja di luar kota tempat tinggal kami, dia berkata akan menabung untuk biaya nikah kami yang berlangsung tahun ini, dan yang paling menyadihkan akhirnya terjadi.
Seminggu setelahnya dia berada di kota lain, tiba2 dia memutuskan silarurahim kami, dia memblokir semua media sosial yang bisasa kami gunakan untuk berkomunikasi, begitu pula keluarganya, semua telah diblokir, beberapa hari sebelum ini terjadi tak nampak sedikitpun ada masalah dalam hubungan kami.
Semua berjalan seperti biasanya, kami saling mengirim pesan menceritakan keseharian masing2. Saat saya telusuri dari beberapa sms terakhirnya, bahasa pesanya tak seperti biasanya, seperti orang lain yang mengetik beberapa pesan tersebut, karena bartahun tahun kami bersama, tak pernah meninggalkan satu sama lain, saya sangat mengenalinya dan dia sangat mengenali saya.
Hal yang paling menyakitkan ketika dia berkata dia tak akan menikahi saya, karena saya membawa hal buruk kepadanya, karena selama bertahun tahun dengan saya dia tak menjadi lebih baik. Badan ini tubuh ini terasa melayang saat aku baca pesannya tersebut, seakan gravitasi tak menahanku berdiri, seakan tubuh ini melayang, fikiran ini entah terbang kemana, badan terasa lemas dan dada terasa ditekan dengan alat berat.
Bagaimana tidak, sehari sebelumnya tak terjadi apa2, tiba2 malam itu terjadi dengan tanpa ada tanda2. Dia bahkan mengancamku jika aku menyanyakan ini kepada keluarganya dia tak akan pulang ke kota kami dan tak akan memaafkanku, aku sempat berfikir apa salahku sehingga dia menganggab remeh pernikahan kami, menghinakanku, jika pernikahan kami batalpun setidaknya bisa mengkonfirmasi kepada kuargaku dengan cara kekeluargaan.
Aku tak pernah berfikir hal seperti ini akan menimpaku jika aku lihat keseharian kami yang begitu penuh cinta, jangankan menangis bersedihpun dia tak akan membiarkanku, aku hanya berfikir seperti ini hanya ada di sinetron2 saja, dan jikapun ada pasti hanya 1:1000 yang melakukan hal ini, dan tenyata angka 1 itu adalah aku. Dan masih ku ingat ketika aku bertanya apakah dia telah mencintai wanita lain?
Dia menjawab jika aku mencintai wanita lain dia hanya sadar diri siapa dia. Aku berfikir mungkin dia telah mencintai wanita lain hanya dalam waktu 1minggu, mungkin dia telah mencintai orang lain yang telah dia anggap lebih baik dariku.
Terakhir aku berkata jika kau benar2 ingin menjadi lebih baik menikahlah kita besok, karena aku mempunyai tabungan kalau hanya untuk ijab dan syukuran, agar Allah memudahkan rizki kami, agar Allah memudahkan jalan kami,tapi apa mau dikata, jika hati tak lagi mencinta jika hati mudah tergoda, impian bertahun2pun akan sirna.
Ah sudahlah inilah yang dikatakan tidak berjodoh, sedekat apapun dengan pernikahan yang sudah ditetapkan jika tak berjodoh mau dikata apa. Mungkin Allah sedang merencanakanku menikah dengan laki2 yang tak merendahkanku, mungkin Allah sedang merencanakan agar aku lebih bersabar dan diperlihatkan bahwa aku hanya akan menikah dengan orang yang lari tak bertanggungjawab.
Dan seharusnya aku beruntung, ini terjadi sebelum pernikahan kami yang akan berlangsung dalam hitungan bulan.. Untukmu yang meninggalkanku denganya aku baik2 saja dan aku harap kamu juga.. Dariku yang menemanimu, menyayangimu bertahun tahun.
Jadikanlah ini pelajaran bagimu wahai pembaca yang dirahmati Allah, selama apapun kalian bersama, bahkan sekalipun kalian menyebar berita bahwa akan menikah tahun ini, sekalipun orangtua dari pasanganmu menemuimu untuk membicarakan pernikahan. Janganlah kau terlalu menganggab serius sebelum kalian benar2 disatukan dengan ijab. Agar kalian senantiasa dijauhkan dari hal yang terjadi sepertiku.

Kerinduan Ku

matamu
keheningan di gegap gempita langit
merampungkan bahagia yang
akan tercipta lewat hujan
airmata

laksana tirus
matamu merincis sarang
luka di dadaku yang menggenang
rancak jiwamu saat kuselisir
bersama rindu leburkan getir

“adakah yang lebih mantra
dari matamu yang menyulap
lukaluka menjadi gulagula?”

engkaulah bunga mewangi di mimpi
engkaulah nauangan ksatria tersesat
engkaulah peta segala tuju kekinian
engkaulah pelarut batu pada hatiku

namun aku melihatnya
sedih membaur bersama terista
di kelopak kembang matamu saat
selaksa bening intan berpijar
di reruntuhan payau airmatamu

ini dadaku
benamkan jingga di wajahmu
taburkan manikmanik luka
hingga melaung segala terista
lesap bersama airmata

Engkau kah itu?

Engkau kah Itu?


Engkau kah itu?
Yang berdendang sendu
Dengan seuntai senandung rindu
Diantara rintihan sang kalbu
Yang terus tenggelam dalam kubangan pilu
Terinjak-injak derap langkah sang waktu

Engkau kah itu?
Yang menimpakanku ber ton-ton rindu
Dengan sejuta lembar bayangmu
Merebut tiap hempasan nafasku
Mengikat tiap persendian tulangku
Dengan merindukanmu.. Aku menemukanmu

Engkau kah itu?
Yang mencintaiku
Yang melengkapi semua asaku
Yang bermain di atas taman hatiku
Yang selalu berdendang di ujung rinduku
Yang takkan hilang meski disapa mesra sang bayu

Engkau kah itu?
Yang perlahan menaklukanku..

Aku Merindukanmu

Sudut sepi, ketika itu..
Kembali aku merindukanmu, sangat rindu
Gundah, resah dan gelisah menari-nari di kalbu
Bercumbu dengan setumpuk rindu yang membelenggu
Masih ku ingat saat itu.. Ya saat itu
Saat kau bunuh aku dengan diammu
Namun.. Masih saja aku merindukanmu, sangat rindu

Kubangan hening kala itu..
Bayanganmu hadir dibibir ilusiku
Hadirkan sebersit senyum terindah milikmu
Senyum yang semakin memberatkan rinduku
Haruskah ku buang bayangmu itu?
Haruskah aku?
Ah.. Aku tidak dan tak akan mampu
Wahai engkau.. Dengan cara inilah aku mencintaimu

Kamar senyiku, saat itu..
Sayup-sayup ku ingat kembali kisahku
Kau tahu apa yang kutemukan? Cintamu, cuma itu
Cinta yang membuka mataku
Pula yang membuka hatiku
Dan dalam hatiku, aku melihatmu, bidadariku
Hingga takan bosan ku berbisik di telingamu
“Aku Merindukanmu”