Minggu, 31 Juli 2016

Goresan tak Bertema

Oleh 
Kahlil Gibran
 
Mencoba menuangkan hati
Pada goresan hitam diatas putih
Walau ku hanya seorang anak manusia
Yang tak mengerti apa itu arti cinta?
Alunan waktu yang menyertaiku
Telah menghadirkan cinta dalam hidupku
Satu demi satu rasa itu merengkuh relung jiwa
Dan merampas semua bagian
Saat kau datang dalam tiap mimpiku
Andai ku mampu
Ingin ku menantang dunia yang selalu menjeratku
dengan setia angin cinta yang begitu membebaniku
Engkau yang ku sayang
Kini ku mengerti
bahwa ku berada pada sisi yang salah
yang teramat sempurna untuk ku raih
Semua satu bagian dalam diriku berkata?
Aku hanyalah sesuatu yang tak berarti dalam harimu
atau bahkkan
Hanya seperti batu yang tak berguna
Hingga dengan mudah kau hempaskan
Mungkin kau tak mempercayai apa itu cinta sejati
Hingga kau hanya memandangnya sebelah mata
Cintaku yang terasa hampa tanpa hadirmu
Mungkin bila masih di beri kesempatan
Hanya satu kali seumur hidup untuk berkata jujur
Saat inilah akan ku ungkapkan
Bahwa aku menyayangimu
Mencintaimu melebihi diriku

(Tanpa Judul)

Oleh 
Bertrand Russel

Wahai Sukacita, sukacita pegunungan
Hingga lunglai dalam pertarungan yang dilangsungkan,
Saat masih melekat kulit rusa suci,
Sedang lainnya telah terbantai,
 

Dalam riang memancar merah memabukkan,
Darah domba gunung yang terkoyak-koyakkan,
Kemenangan binatang buas mencakar-menerkam
Dipucuk bukit, tempat matahari tersangkutkan
 

Hingga pegunungan Phrygia dan Lydia
Bromios memimpin jalan kesana.
Akankah dia datang padaku, selalu datang,
Tari-tarian panjang, teramat panjang
 

Sejak gulita malam hingga bintang-bintang pucat menghilang?
Akankah kurasa embun ditenggorokan dan desauan
Angin dirambutku? Akankah kaki-kaki putih kita berkilauan di kolong langit, dikeremangan?
Duhai kaki-kaki rusa yang menyelinap ke hijau hutan, sendiri di rerumputan dan keindahan;
 

Lepaslah binatang buruan, lepaslah dari ketakutan,
Terbebas dari perangkap dan ancaman mematikan.
Namun masih ada suara nun jauh di sana,
Gaung suara, rasa waswas, dan anjing pemburu tergesa-gesa,

Wahai kerja yang mmengasyikkan, tunggang-langgang berlarian,
Menuju bengawan dan celah-selah pegunungan –
Ini keriangan atau kecemasan, wahai kaki-kaki lincah beterjangan?
Ke padang-padang elok sunyi, jauh dari ancaman insan,

Hingga tak terdengar suara, di tengah rimbun hijau belantara,
Makhluk-makhluk lemah hidup sembunyi di dalam rimba

Jumat, 27 Mei 2016

Perempuan dan Perhiasan Dunia

Seringkali saya cukup jengah membaca beberapa artikel yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dan saya merasa hal itu sangat keterlaluan. Laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakan adalah level ketaqwaannya. 

Namun, dalam teorinya, selalu ada penafsiran yang keliru dan cenderung fallacy(sesat pikir). Bisa jadi hal ini berkembang karena pengaruh tradisi lokal yang cukup kuat. Misalnya, kebudayaan di Asia belum tentu sama dengan di Eropa. Di Asia, tradisi bisa jadi jauh lebih kuat ketimbang penerapan agama. Di Indonesia pun satu daerah belum tentu sama dengan daerah lain. Terkadang pengaruh ini tercampur dengan penerapan agama yang parsial.

Sebagai contoh artikel berikut “Pengorbanan Istri Yang Sering Tidak Disadari Suami“ Di dalamnya berisi tujuh poin “pengorbanan” istri terhadap suami. Mengapa saya gunakan tanda petik dua (“), sebab menurut saya apa yang ditulis bukanlah pengorbanan, namun kekeliruan pemahaman. Saya yakin ini kasuistik (hanya dialami oleh penulis atau terlokalisasi di sekitar penulis artikel tersebut). Yang jelas, hati kecil saya berontak dan tidak menerima jika perempuan direndahkan dengan pemahaman keliru. Harus ada yang dikoreksi dari bagaimana cara berpikir sebagian orang mengenai posisi perempuan—terutama ketika dipandang sebagai seorang istri. Berikut komentar saya:

1. “Ketika suami menikah lagi dan perempuan berusaha menerima (karena alasan ekonomi atau agama atau alasan apapun), ia akan duduk sendiri di setiap malam dalam gelap kamar saat suaminya tengah mendekap mesra seorang perempuan lain di ranjang lain. Ia akan (mungkin) menangis karena terluka, tapi demi anak-anak ia akan berusaha menerimanya dengan sabar.”

O please, jangan jadikan seolah perempuan harus menerima itu semua. Perempuan berhak menolak. Bahkan, sebelum pernikahan perempuan punya hak untuk meminta calon suaminya untuk tidak melakukan hal itu. Saya pribadi suka sekali dengan keberanian Ana dalam Ketika Cinta Bertasbih, ketika meminta calon suaminya untuk tidak menikah lagi selagi dia masih hidup. Ana bilang, “Saya tidak mengharamkan poligami. Tapi saya tidak suka. Sama halnya seperti petai. Saya tidak suka petai, tapi bukan berarti saya bisa mengharamkan petai. Saya tidak makan petai.” Menerima laki-laki yang akan melakukan poligami, sedangkan si perempuan tidak suka, lalu “terpaksa” menerimanya, bagi saya, adalah kebodohan. Pastikan calon suamimu tidak akan pernah melakukan itu. Bahkan, terpikirkan pun tidak. Dan, suami terbaik adalah ia yang tidak pernah membiarkan istrinya menangis, apalagi karena suaminya.

2. “Sebagai istri ia siap mengorbankan impian-impianny­a demi mengurus suami (yang kadang bersifat kekanak-kanakan­ dan minta diurus) dan anak-anak yang bandel.”

Saya cuma mau bilang: lelaki macam apa itu? Tega mengubur impian-impian istri demi mengurusi dirinya? Apalagi jika yang dimaksud “mengurus suami” itu sebagai “melakukan pekerjaan pembantu” (tolong bedakan pekerjaan rumah tangga sebagai istri dengan pekerjaan pembantu rumah tangga). Bagi saya, setiap orang punya hak untuk bermimpi dan mengejar impiannya masing-masing. Pasangan yang baik adalah mereka yang bahu-membahu membantu suami atau istrinya mencapai impiannya. Bukankah seharusnya begitu? Bukankah letak keindahannya di situ? Suami mengurangi beban dan ikut merasakan kepayahan istri dalam mengejar cita-citanya. Begitu pula sang istri kepada suaminya. Sehingga mereka berjaya bersama atau hancur bersama.

3. “Ketika suami mencela masakannya, ia akan bersusah payah belajar masak dari siapapun untuk bisa menghidangkan makanan dengan rasa terbaik pada suami dan anak-anaknya.”

Astaghfirullah! Ketahuilah, sepanjang hidup Rasulullah, beliau tidak pernah sekalipun mencela masakan yang dibuat istrinya. Kalau menggunakan ukuran agama. Pertama, dilarang keras mencela makanan. Kedua, wajib hukumnya berakhlak baik kepada istri (dalam hal apapun). Mencela makanan yang dibuat istri sudah menyalahi kedua syarat akhlak tersebut. Itu baru dua, masih banyak yang lainnya. Jadi, sebelum menyebutkan “kesabaran atau pengorbanan” istri terhadap celaan suaminya, suaminya telah salah duluan. Dan, suami macam apa yang mencela masakan istrinya?

4. “Ia bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jam kerjanya tak berbatas. Ia bangun ketika siapapun di rumah belum bangun, mulai bekerja, memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, lalu mengurus suami sebelum pergi kerja, mengurus anak-anak berangkat sekolah, ketika pakaian kering di jemuran ia akan mengangkatnya dan menyetrika dengan rapi.”

Oh stop, please! Istri bukanlah pembantu! Baca lagi Istri bukan pembantu!

5. “Kemudian setelah begitu capek mengurus rumah tangga, malam giliran memenuhi ini itu suaminya. Mulianya seorang istri adalah: tukang masak, tukang cuci, cleaning service, babu dan penghibur suaminya digabung jadi satu.”

Na’udzubillah! Ini kesesatan berpikir yang sangat nyata. Di manakah letak kemuliaannya? Bukankah ini bentuk perendahan sejadi-jadinya? Istri jadi seperti babu dan penghibur itu disebut mulia? Astaghfirullah. Saya benar-benar berlindung dari cara pikir seperti ini. Ini kesesatan berpikir yang fatal. Ingin saya rudal rasanya orang yang berpikir seperti ini.

6. “Ketika suaminya menginginkan punya anak 4, 5, 6 atau 9 orang, ia sebagai istri harus siap menderita mengandung anak dan bertarung nyawa melahirkannya.”

Di poin ini letak semulia-mulianya perempuan. Laki-laki tidak akan pernah bisa mendapatkan kehormatan ini. Mengandung dan melahirkan adalah proses paling menakjubkan di dunia. Tetapi, perlu dicatat, istri pun berhak untuk mengendalikan kelahiran. Suami pun harus tahu diri tentang hal ini.
Inilah mengapa kewajiban mencari nafkah lahir dan bathin adalah sepenuhnya kewajiban suami. Bisa jadi sebagai pengganti—meski tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan mengandung dan melahirkan—kesakitan sang istri. Dan, perlu diketahui pula bahwa dalam mencari nafkah suami pun harus banting tulang.


7. “Meski laki-laki tak paham benar, tapi Allah Maha Mengerti, karena itulah ia memberi reward pada pengorbanan perempuan. Bagi yang meninggal karena melahirkan anak, Tuhan langsung memberinya surga.”

Laki-laki memang tidak akan pernah paham bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan seperti poin sebelumnya. Tetapi bukan berarti laki-laki tidak mendapatkan kewajiban pengorbanan yang sama. Dan, ini tidaklah sama dengan menjadikan istri sebagai subordinasi dari laki-laki. Melahirkan adalah sebentuk jihad bagi perempuan.

Tak Habis Pikir
Saya tidak habis pikir mengapa pekerjaan dapur-sumur-kasur itu disematkan sebagai pekerjaan wajib istri. Sehingga mengepel, menyuci, menyetrika, dsb dianggap domain perempuan. Saya meyakini ini adalah produk budaya lokal yang terasimilasi dengan penerapan agama. Ditambah banyak penafsiran terhadap hak dan kewajiban suami-istri yang dipahami parsial, jadilah tradisi subordinasi perempuan terus lestari. Perpaduan antara dominasi laki-laki sebagai budaya lokal dan penafsiran terhadap teks yang terlalu maskulin.

Jika ada perempuan yang menjalani itu semua dengan penuh keikhlasan tanpa tekanan, tradisi budaya, atau pemahaman parsial agama, bagi saya itu bagus sekali. Mungkin banyak alasan yang bisa diberikan. Namun, jika itu semua dilakukan dengan keterpaksaan budaya—tanpa diketahui hakikatnya, maka itulah yang keliru. Lebih keliru jika kesalahan berpikir itu terus dikampanyekan seolah istri-istri akan mulia dengan melakukan pekerjaan pembantu atau seperti poin-poin di atas. Keikhlasan karena kesadaran jauh lebih baik dari keikhlasan karena keterpaksaan.

Jika “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah,” maka lelaki shalih tentu akan menjaga perhiasan itu dengan jiwa raganya, merawatnya dengan teliti dan hati-hati, dan menyimpannya di tempat terbaik. Tidak masuk di akal jika perhiasan itu ia gunakan untuk memukul paku, mengganjal pintu, gantungan baju, atau digunakan untuk pekerjaan kasar, kotor, lagi menggerus keindahan perhiasan tersebut. Bukankah begitu?

Itu yang saya pahami secara sederhana dari perhiasan—dengan makna sesungguhnya. Bagaimana jika “perhiasan” yang dimaksud adalah manusia? Tentu akan jauh istimewa perlakuannya, bukan?”

#copas 

Kamis, 26 Mei 2016

Apa itu Rindu?

Ya, ini sebuah pertanyaan kepada kita semua yaitu saya dan Anda. Rindu, Sebuah kata yang sering kita dengar sehari hari, namun terkadang kita lupa bahkan tidak tahu apa arti "rindu" itu sendiri. Bagi anak-anak muda terutama yang tengah dilanda asmara, mungkin rindu itu adalah ketika ingin bertemu kekasihnya. Bagi seorang anak yang merantau jauh, berarti ingin berjumpa dengan orang tua dan keluarganya. Melihat artinya dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI), Rindu itu adalah "sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu". Ya, hal ini seperti kita sampaikan sebelumnya, sangat ingin dan berharap kepada sesuatu. Rindu kampung, artinya berharap berjumpa dengan kampung alias ingin pulang kampung. semakin jauh dan semakin lama meninggalkan kampung biasanya akan semakin rindu akan kampung halaman. Saya disini hanya ingin sedikit berbagi tentang "arti rindu" dalam makna sehari-hari sebagaimana yang kita alami, jika yang tertulis di KBBI mungkin hanyalah "teori" yang berarti hanya "sebuah kata", tetapi dalam keseharian, rindu itu kita rasakan bukan hanya sekedar ungkapan kata saja. Seperti kata perjuangan, usaha atau berani, mungkin tanpa melihat KBBI pun kita tau apa itu berjuangan dan apa itu keberanian, tapi pada aplikasinya berapa banyak yang sanggup dan benar-benar dapat merasakan perjuangan dan arti keberanian? Tentu tdk banyak! Begitu juga dengan Rindu. Kita boleh mendefinisikan atau mengungkapkannya dengan berbagai cara. Tetapi, sekali lagi, rindu adalah masalah rasa. Adapun, maksud saya menulis ini bukanlah ingin membahas tentang rasa rindu dalam percintaan, apalagi perihal percintaan anak-anak remaja yang masih "alay", terlebih rindu seperti yang di tampilkan sinetron. Yang butuh puluhan bahkan ratusan puisi untuk mengungkapkanya. Sama sekali bukan! Itu tentang rasa rindu dalam aspek kehidupan yang menyeluruh dalam kehidupan kita. Sebagai contoh, Seorang mahasiswa saat ini bosan dengan kegiatan kampus, tugas yang menumpuk apalagi jika dosen yang kiler, rasa-rasanya waktu terhenti dan pinginnya cepat berlalu. Tapi ketika selesai kuliah, setelah wisuda dan dapat gelar sarjana. Bahkan sudah bekerja dan berkeluarga, rasanya ingin kembali ke masa kuliah, ingin berkumpul bersama teman-teman semasa kuliah, walaupun tugasnya menumpuk. Tetapi dengan tugas menumpuk itu kita dapat merasakan bagaimana indahnya berkumpul dengan teman-teman seperjuangan. Rindu akan dosen yang killer. Contoh lain lagi, ada seseorang yang sangat peduli (biasanya ini dialami oleh cewek) kepada Anda, tapi Anda mungkin merasa sok jual mahal, mungkin pada saat itu Anda banyak yang peduli, mungkin karena kecantikan anda(karena anda merasa cantik)? Mungkin merasa pintar? Kaya? atau sejenisnya? Pada saat itu anda mungkin tidak begitu menghargai sebuah kepedulian seseorang, walaupun kepedulian itu ada mungkin nilainya tidak begitu besar, kenapa bisa demikian? Hal ini terjadi karena mungkin yang peduli kepada anda. Ketika hari ini, rasa kepedulian itu sedikit demi sedikit mulai berkurang kepada Anda, maka Anda pun merasa butuh kembali rasa kepedulian yang pernah tulus diberikan (sese)orang kepada Anda ataupun kita. Disaat jumlah kepedulian itu sedikit, baru kita merasakan begitu berharganya sebuah kepedulian dari seseorang. Disaat seseorang telah mengalihkan kepedulian kepada yang lain, karena mungkin ditempat yang lain lebih 'berharga' sebuah kepeulian, baru Anda sadar bahwa berapa nilainya sebuah kepedulian atau betapa pentingnya orang yang begitu peduli dengan Anda. karena kita telah tidak bisa memiliki, saat itulah kita merindu akan sosok yang seperti itu. Hal ini juga berlaku seperti kepedulian dan kasih sayang dari orang tua kita, disaat beliau masih sehat, mungkin saat masih jaya yang mana segala keinginan kita mampu dipenuhi. saat itulah kita tidak begitu menghargai orang tua kita, dengan seenaknya kita minta dibeli ini dibeli itu. Kalau tidak dibeli kita marah, berkata dengan kasar dan bahkan akan mengancam. Ketika beliau sudah tua ketika sudah lemah tak berdaya atau ketika beliau sudah tiada, baru kita merasa kehilangan. Baru kita merasa merindui sosok yang seperti itu kembali yang pasti tak ada penggantinya lagi. Kembali kepada pertanyaan apa itu Rindu? Rindu itu tak cukup hanya sekedar kata-kata untuk mengungkapkannya seperti yang dikatakan dalam KBBI, tapi ini masalah rasa dan masalah jiwa. Dimana kondisi kita lebih banyak menyesal karena kita tdk mempergunakannya dengan sebaik-baiknya ketika kesempatan itu ada. dan sering kita sesali, ketika itu telah tiada. Jadi benar seperti kata orang bijak, Syukurilah apa yang kita miliki sekarang, sebelum ia pergi dan tak pernah kembali. Jadi, kembali kepada kepada pribadi kita sendiri, mensyukuri apa yang kita miliki, atau...(silahkan isi sendiri). Jadi, jangan sia-siakan orang yang begitu peduli pada Anda saat ini, sebelum dia pergi dan takkan pernah kembali untuk Anda.

Kerinduan Terpendam

Di kala sang surya mulai menenggelamkan dirinya
Di kala mentari perlahan meninggalkan langit biru
Di kala kerinduanku yang terpendam
Manakala hati menginginkannya
Manakala jiwa merindukannya

Semua laksana bagai puri
Kerinduan yang terpendam
Jauh dilubuk kerinduanku
Tersimpan dan tertanam
Sejuta harapan tuk
Bertemu denganmu segera
Dan memilikimu seutuhnya
Adalah impianku

Cahaya jiwamu yang  engkau
Pancarkan selalu terlihat
Bak mutiara hati yang selalu
Terpancar dalam kesehari-harianmu

Tapi hanya satu kekuranganmu
Yaitu pencarianmu dalam memilih
Pendamping hidup dambaan hati,,
Biduan hati..
Kerinduan sang perindu biduan hati

Salam rindu selalu dari ku

Menanti dalam Rindu


Jauhku melangkah menuruti hasrat yang terpendam
Gelora rindu berjalan seiring nafas
Langkah kaki makin nyata menghujam
Terbang bersama kasih yang terhempas
 

Lautan cinta tempat berpadu
Rindu yang kemarin belum terobati
Nada-nada mengalun di hati penuh sahdu
Angan yang tinggi terbang untukmu wahai pengobat hati
 

Ceceran kasih yangku ukir dalam namamu
Ku bentangkan gelora rindu penuh pesona
Datang dan terbang terbawa angin bersama hayalmu
Kini Ku dekap erat dirimu dalam rinduku
 

Gugusan rindu telah teruntai
Mahligai kata telah terucap riang
Rasa yang takan padam oleh janji-janji
Manis semanis kembang gula yang merah terpajang
 

Ku nanti kau ku nanti
Ku tunggu Kau selalu Ku tunggu
Harapanku pasti
Janjimu selalu

Sabtu, 21 Mei 2016

Kerinduan itu ....

Disudut kegelapan, bintang setia hadir tersenyum dikala nyamuk perang mencari darah. Tapi aku tak melihat cahaya yang biasa tersenyum lebar. Dimana cahaya itu? Bosankah ia melihat tingkah makhluk dibumi ini? Ataukan ia terbaring sakit di singgasananya? Ahh ntah lah! Aku merindukan engkau wahai dewi malam J ingin aku berbagi ceritaku malam ini pada engkau pendegar setia ku -_- engkau yang selalu menebar cinta saat aku bersedih risau. Engkau yang seolah berkata “tersenyumlah walau semua masalah mu begitu berat kau rasakan”. Iya! Karena selarut apapun bulan menerangi bumi ia tak pernah menampakan kesedihanya. Tetap tersenyum di langit sana.
Semangat itulah yang seharusnya aku tiru dari bulan itu. Tapi, apakah aku bisa setegar bulan? Sedangkan kerinduan akan sesorang itu terus membuat sesak dihatiku L mutiara pun tak mampu ku tahan, terus keluar menyusuri pipi. Rasanya hati ini sulit membuang semua kisah masalalu bersama lalaki itu. Bahkan mungkin separuh hatiku masih bersamanya. Ingin ku bicara memohon hati ku dikembalikan. Tapi beras telah menjadi bubur. Luka yang membekas sulit tersembuhkan.
Aku memang meniru semangat bulan. Ceria di setiap hariku, tertawa bersama teman, bercanda gurau yang membuat aku melupakkan sejenak kesedihan akan rindu ku. Tapi hati tidak dapat dibohongkan. Saat senja datang, dan bulan menggatikan matahari yang mungkin lelah berbagi cahaya. Kejolak sedih ku datang lagi. Mengundang hati untuk bercerita pada bulan pendegar setiaku.
Apakah cinta sekejam ini. Berawal manis menyisahkan kesedihan. Dulu aku tak pernah takut mencinta. Tapi sekarang aku telah merasakan pahitnya hati yang terluka. Aku hanya berharap agar luka yang aku rasa ini tidak lagi aku rasakan nantinya.
Malam semakin larut, dingin mulai menusuk kulit. Ku hapus air mata yang mengalir. Berharap esok tidak lagi ada air mata yang keluar dari mata ku ini. Terima kasih bintang yang mengantikan bulan untuk mendengar keluh kesah ku. Aku harap kalian tidak bosan mendengar ceritaku seperti bulan yang menjadi teman setiaku. Oh ya. Wahai langit, engkau adalah dinding pembatas yang bisa mempertemukan. Aku hanya ingin engkau sampaikan salam rinduku pada seorang lelaki yang teramat ku sayang J bilang padanya aku rindu akan tawa, senyum dan perkataannya. Terima kasih langit.