Disudut kegelapan, bintang setia hadir tersenyum dikala nyamuk perang mencari darah. Tapi aku tak melihat cahaya yang biasa tersenyum lebar. Dimana cahaya itu? Bosankah ia melihat tingkah makhluk dibumi ini? Ataukan ia terbaring sakit di singgasananya? Ahh ntah lah! Aku merindukan engkau wahai dewi malam J ingin aku berbagi ceritaku malam ini pada engkau pendegar setia ku -_- engkau yang selalu menebar cinta saat aku bersedih risau. Engkau yang seolah berkata “tersenyumlah walau semua masalah mu begitu berat kau rasakan”. Iya! Karena selarut apapun bulan menerangi bumi ia tak pernah menampakan kesedihanya. Tetap tersenyum di langit sana.
Semangat itulah yang seharusnya aku tiru dari bulan itu. Tapi, apakah aku bisa setegar bulan? Sedangkan kerinduan akan sesorang itu terus membuat sesak dihatiku L mutiara pun tak mampu ku tahan, terus keluar menyusuri pipi. Rasanya hati ini sulit membuang semua kisah masalalu bersama lalaki itu. Bahkan mungkin separuh hatiku masih bersamanya. Ingin ku bicara memohon hati ku dikembalikan. Tapi beras telah menjadi bubur. Luka yang membekas sulit tersembuhkan.
Aku memang meniru semangat bulan. Ceria di setiap hariku, tertawa bersama teman, bercanda gurau yang membuat aku melupakkan sejenak kesedihan akan rindu ku. Tapi hati tidak dapat dibohongkan. Saat senja datang, dan bulan menggatikan matahari yang mungkin lelah berbagi cahaya. Kejolak sedih ku datang lagi. Mengundang hati untuk bercerita pada bulan pendegar setiaku.
Apakah cinta sekejam ini. Berawal manis menyisahkan kesedihan. Dulu aku tak pernah takut mencinta. Tapi sekarang aku telah merasakan pahitnya hati yang terluka. Aku hanya berharap agar luka yang aku rasa ini tidak lagi aku rasakan nantinya.
Malam semakin larut, dingin mulai menusuk kulit. Ku hapus air mata yang mengalir. Berharap esok tidak lagi ada air mata yang keluar dari mata ku ini. Terima kasih bintang yang mengantikan bulan untuk mendengar keluh kesah ku. Aku harap kalian tidak bosan mendengar ceritaku seperti bulan yang menjadi teman setiaku. Oh ya. Wahai langit, engkau adalah dinding pembatas yang bisa mempertemukan. Aku hanya ingin engkau sampaikan salam rinduku pada seorang lelaki yang teramat ku sayang J bilang padanya aku rindu akan tawa, senyum dan perkataannya. Terima kasih langit.
Semangat itulah yang seharusnya aku tiru dari bulan itu. Tapi, apakah aku bisa setegar bulan? Sedangkan kerinduan akan sesorang itu terus membuat sesak dihatiku L mutiara pun tak mampu ku tahan, terus keluar menyusuri pipi. Rasanya hati ini sulit membuang semua kisah masalalu bersama lalaki itu. Bahkan mungkin separuh hatiku masih bersamanya. Ingin ku bicara memohon hati ku dikembalikan. Tapi beras telah menjadi bubur. Luka yang membekas sulit tersembuhkan.
Aku memang meniru semangat bulan. Ceria di setiap hariku, tertawa bersama teman, bercanda gurau yang membuat aku melupakkan sejenak kesedihan akan rindu ku. Tapi hati tidak dapat dibohongkan. Saat senja datang, dan bulan menggatikan matahari yang mungkin lelah berbagi cahaya. Kejolak sedih ku datang lagi. Mengundang hati untuk bercerita pada bulan pendegar setiaku.
Apakah cinta sekejam ini. Berawal manis menyisahkan kesedihan. Dulu aku tak pernah takut mencinta. Tapi sekarang aku telah merasakan pahitnya hati yang terluka. Aku hanya berharap agar luka yang aku rasa ini tidak lagi aku rasakan nantinya.
Malam semakin larut, dingin mulai menusuk kulit. Ku hapus air mata yang mengalir. Berharap esok tidak lagi ada air mata yang keluar dari mata ku ini. Terima kasih bintang yang mengantikan bulan untuk mendengar keluh kesah ku. Aku harap kalian tidak bosan mendengar ceritaku seperti bulan yang menjadi teman setiaku. Oh ya. Wahai langit, engkau adalah dinding pembatas yang bisa mempertemukan. Aku hanya ingin engkau sampaikan salam rinduku pada seorang lelaki yang teramat ku sayang J bilang padanya aku rindu akan tawa, senyum dan perkataannya. Terima kasih langit.



0 komentar:
Posting Komentar