matamu
keheningan di gegap gempita langit
merampungkan bahagia yang
akan tercipta lewat hujan
airmata
laksana tirus
matamu merincis sarang
luka di dadaku yang menggenang
rancak jiwamu saat kuselisir
bersama rindu leburkan getir
“adakah yang lebih mantra
dari matamu yang menyulap
lukaluka menjadi gulagula?”
engkaulah bunga mewangi di mimpi
engkaulah nauangan ksatria tersesat
engkaulah peta segala tuju kekinian
engkaulah pelarut batu pada hatiku
namun aku melihatnya
sedih membaur bersama terista
di kelopak kembang matamu saat
selaksa bening intan berpijar
di reruntuhan payau airmatamu
ini dadaku
benamkan jingga di wajahmu
taburkan manikmanik luka
hingga melaung segala terista
lesap bersama airmata



0 komentar:
Posting Komentar