Hello, rindu
masih tak berpihak padaku. Karena rindu sedang merindukan rindu yang lain?
Hehehe. Rindu pernah datang padaku. Iya. [baca: sangat sering saat dulu] Dia
juga pernah berpihak padaku. Tapi, entah mengapa, hingga tulisan ini kalian
baca, atau mungkin hingga suatu hari nanti, rindu masih tak berpihak padaku.
Tolong, jangan tanya mengapa. Karena, untuk berkatapun rasanya rindu takkan
pernah mau lagi.
Lagi, rindu tak
berpihak padaku. Ketika merindu, ada rasa ingin bertemu? Itu wajar! Tapi,
tunggu, rindu tak bisa menemuiku. Dan aku juga tak bisa menemui rindu. Tak bisa
dan tak boleh! Dan sekali lagi, tolong, jangan berkata, “mengapa?”. Tiba-tiba
rasaku benar-benar membuncah untuk berbuat “sesuatu”. Tapi, tetap saja, rindu
tak berpihak padaku.
Dan lagi, rindu
masih tak berpihak padaku. Entah, mengapa aku berharap rindu akan berpihak padaku.
Walaupun rasanya sangat mustahil, tapi, aku masih ingin rindu berpihak padaku.
Daku bodoh? Hehehe. Baiklah, aku terima dengan senang hati. Sebenarnya, aku
juga merasa aneh dengan rasa ini. Mengharapkan rindu merindu? Aduh, istigfarlah
aku. Kau takkan bisa mendapatkannya. -_-
Sekali lagi,
rindu tetap tak berpihak padaku. Baiklah, harusnya aku memang sadari itu sejak
awal, sejak pertama mengenal rindu. Aku tak harusnya mengharapkan rindu untuk
merindu. Tapi, tapi, tapi, aku harap rindu akan merindu! Ahhh, aku benar-benar
bodoh! Bismillah, astagfirullah, astagfirullah. Baiklah, takkan ada rindu lagi.
Dan, rindu, tenanglah! Kau tak perlu khawatir. Takkan ada namamu yang
kusematkan dalam doaku lagi. Dan kuharap, kau kan bahagia merindu dengan
rindumu yang baru. Ya, dan “aku harap rindu akan merindu” itu akan kau
implementasikan dengan rindumu yang lainnya. Hehehe. Selamat tinggal rindu,
maaf pernah merindukanmu.



0 komentar:
Posting Komentar