Kamis, 12 Mei 2016

Terbentur rindu yang belum juga tahu

Hello, rindu masih tak berpihak padaku. Karena rindu sedang merindukan rindu yang lain? Hehehe. Rindu pernah datang padaku. Iya. [baca: sangat sering saat dulu] Dia juga pernah berpihak padaku. Tapi, entah mengapa, hingga tulisan ini kalian baca, atau mungkin hingga suatu hari nanti, rindu masih tak berpihak padaku. Tolong, jangan tanya mengapa. Karena, untuk berkatapun rasanya rindu takkan pernah mau lagi.

Lagi, rindu tak berpihak padaku. Ketika merindu, ada rasa ingin bertemu? Itu wajar! Tapi, tunggu, rindu tak bisa menemuiku. Dan aku juga tak bisa menemui rindu. Tak bisa dan tak boleh! Dan sekali lagi, tolong, jangan berkata, “mengapa?”. Tiba-tiba rasaku benar-benar membuncah untuk berbuat “sesuatu”. Tapi, tetap saja, rindu tak berpihak padaku.

Dan lagi, rindu masih tak berpihak padaku. Entah, mengapa aku berharap rindu akan berpihak padaku. Walaupun rasanya sangat mustahil, tapi, aku masih ingin rindu berpihak padaku. Daku bodoh? Hehehe. Baiklah, aku terima dengan senang hati. Sebenarnya, aku juga merasa aneh dengan rasa ini. Mengharapkan rindu merindu? Aduh, istigfarlah aku. Kau takkan bisa mendapatkannya. -_-


Sekali lagi, rindu tetap tak berpihak padaku. Baiklah, harusnya aku memang sadari itu sejak awal, sejak pertama mengenal rindu. Aku tak harusnya mengharapkan rindu untuk merindu. Tapi, tapi, tapi, aku harap rindu akan merindu! Ahhh, aku benar-benar bodoh! Bismillah, astagfirullah, astagfirullah. Baiklah, takkan ada rindu lagi. Dan, rindu, tenanglah! Kau tak perlu khawatir. Takkan ada namamu yang kusematkan dalam doaku lagi. Dan kuharap, kau kan bahagia merindu dengan rindumu yang baru. Ya, dan “aku harap rindu akan merindu” itu akan kau implementasikan dengan rindumu yang lainnya. Hehehe. Selamat tinggal rindu, maaf pernah merindukanmu.

0 komentar:

Posting Komentar